SURABAYA — Kementerian Kehutanan Republik Indonesia (Kemenhut RI) menggeser paradigma edukasi lingkungan melalui strategi "jemput bola" guna membangun kesadaran ekologis di kalangan warga urban. Langkah nyata ini diwujudkan lewat penyelenggaraan perhelatan Hutan.ID Fest 2026 Chapter Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Nusra) yang berlangsung selama tiga hari, mulai 11 hingga 13 September 2026, bertempat di Grand City Mall, Surabaya.
Mengusung tema besar "Bangga Hutan Indonesia", pameran ini sengaja diboyong ke pusat keramaian kota untuk memangkas jarak psikologis antara masyarakat perkotaan—khususnya generasi milenial dan Gen Z—dengan agenda vital perlindungan lingkungan.
Staf Ahli Menteri Kehutanan Bidang Ekonomi dan Perdagangan Internasional, Ir. Dida Mighfar Ridha, M.Si., menegaskan bahwa kehadiran Kemenhut di ruang publik perkotaan bertujuan untuk merangkul kelompok sasaran baru yang mendominasi lebih dari 50 persen populasi perkotaan Indonesia.
"Kita ingin mendekatkan kegiatan kehutanan ke stakeholder, utamanya generasi muda. Jadi kalau biasanya sosialisasi atau kegiatan kita ada di kawasan hutan seperti Alas Purwo atau Meru Betiri, sekarang kita jemput bola ke kelompok masyarakat yang dekat dengan perkotaan," ujar Dida saat memberikan keterangan di Surabaya.
Menurut Dida, ketersediaan air bersih, stabilitas suhu kota, hingga pasokan rantai pangan warga urban sangat bergantung pada kelestarian benteng ekologi di hulu. Melalui pendekatan yang adaptif dengan gaya hidup anak muda, pameran ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam mengenai pentingnya pemanfaatan dan pengelolaan hutan secara berkelanjutan.
Guna mencapai tujuan edukasi tersebut secara interaktif, Hutan.ID Fest 2026 menyajikan beragam agenda menarik, mulai dari Exhibition (Pameran Kehutanan), Talk Show edukatif bersama para pakar, Youth Competition untuk wadah kreativitas generasi muda, hingga panggung Music Festival.
Tak hanya sebagai sarana edukasi gaya hidup hijau, forum publik ini juga dimanfaatkan Kemenhut untuk meluruskan persepsi dan disinformasi mengenai isu deforestasi yang kerap menjadi sorotan internasional.
Melalui stan Balai Pemantauan Kawasan Hutan (BPKH) di area pameran, Kemenhut menampilkan sistem pemantauan data geospasial dan satelit secara transparan kepada pengunjung. Edukasi ini penting untuk menjelaskan perbedaan metodologi perhitungan luas tutupan hutan dan angka deforestasi nasional Indonesia dengan standar lembaga internasional seperti Food and Agriculture Organization (FAO).
"Masyarakat perlu memahami bahwa kita memiliki definisi hutan dan deforestasi yang berpatokan pada tata kelola serta kondisi riil nasional. Lewat stan BPKH, kita tunjukkan secara transparan bagaimana kerja pemantauan (monitoring) dan upaya nyata pemerintah dalam menekan angka deforestasi secara terukur," tegas Dida.
Melalui perhelatan Hutan.ID Fest 2026 di Surabaya ini, Kemenhut berharap mampu mengikis jurang pemisah antara kebijakan lingkungan pemerintah dengan partisipasi aktif warga kota, sekaligus menumbuhkan rasa bangga dan kepedulian bersama terhadap keberlanjutan hutan Indonesia. Mun

