SURABAYA, kabar9.id – Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (Unair) kembali menggelar agenda tahunan bergengsi 17th International Nursing Conference. Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 11–12 Juli 2026 di Bumi Surabaya City Resort. Konferensi internasional ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Dies Natalis fakultas yang diadakan secara konsisten setiap tahunnya.
Tahun ini, INC mengangkat tema besar “Shaping The Future of Nursing: Digital Innovation, Global Collaboration, and Sustainable Workforce”. Pemilihan tema ini dinilai sangat relevan dengan tantangan dunia keperawatan saat ini yang mulai memasuki era 5.0, di mana teknologi kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi semakin masif digunakan.
Wakil Dekan Fakultas Keperawatan Unair, Nuzul Qur'aniati, menjelaskan bahwa acara ini bertujuan untuk memperkuat kolaborasi strategis antara Unair dengan berbagai mitra akademis maupun praktisi kesehatan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
“Ini adalah bagian dari bagaimana kita berkolaborasi dengan para mitra kami. Kami berharap acara tahunan ini dapat memberikan dampak nyata yang luas bagi masyarakat,” ujar Nuzul saat ditemui di sela-sela acara.
Nuzul menjelaskan, Konferensi berskala internasional ini menghadirkan jajaran pembicara utama (keynote) dan pakar keperawatan terkemuka dari berbagai belahan dunia. Di antaranya adalah perwakilan dari institusi ternama seperti dari Amerika Serikat: George Washington University, Australia: La Trobe University dan Deakin University, dari Inggris (UK): University of Birmingham, dari Malaysia: Universiti Malaya, International Islamic University Malaysia (IIUM), dan Sunway University. Kemudian dari Taiwan: Taipei Medical University dan dari Indonesia: Universitas Indonesia dan Universitas Airlangga.
Selain itu, pihak panitia juga mengundang perwakilan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Anna Kurniati, S.KM., M.A., Ph.D, selaku pembicara kunci untuk memberikan wawasan terkait arah kebijakan tenaga kesehatan nasional.
Nuzul menjelaskan, konferensi ini diikuti oleh ratusan peserta yang didominasi oleh kalangan akademisi, dosen, dan adapula praktisi dari rumah sakit. Tak hanya dari Indonesia, peserta internasional dari berbagai negara seperti Vietnam, Malaysia, Uni Emirat Arab, Thailand, hingga Timor Leste turut hadir langsung maupun daring untuk berbagi riset serta pengalaman keperawatan global.
Lebih lanjut, Nuzul memaparkan bahwa salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh dunia profesi keperawatan saat ini—khususnya di lingkungan rumah sakit—adalah adaptasi terhadap literasi digital.
“Tantangan utama di rumah sakit saat ini adalah tuntutan peralihan dari sistem berbasis kertas (paper-based) ke rekam medis elektronik (computer-based). Oleh karena itu, perawat dituntut memiliki literasi digital yang kuat agar dapat bersaing,” tambahnya.
Melalui Konferensi ini, Unair berkomitmen penuh mempersiapkan para alumni dan tenaga perawat Indonesia agar memiliki standar kompetensi global. Komitmen ini terbukti dengan terus meningkatnya serapan alumni keperawatan Unair yang bekerja di luar negeri setiap tahunnya, seperti di Austria, Jerman, hingga Arab Saudi.
Ajang ini diharapkan juga mampu memetakan masa depan keperawatan yang inovatif, kolaboratif, dan berkelanjutan. Jib

