SURABAYA, kabar9.id — Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menggelar Rapimnas di hotel Bumi Surabaya, Sabtu (6/6/2026).
Dalam Rapimnas yang mengambil tema membangun ekosistem Industri mebel dan kerajinan Indonesia menuju ekspor USD 6 Miliar ini, para pengurus pusat dan 18 DPD di daerah basis produksi, bersama membahas langkah-langkah konkret untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, dan ekspor furnitur serta kerajinan Indonesia di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompetitif.
Sebab, tantangan industri saat ini tidak dapat diselesaikan hanya oleh masing-masing perusahaan. Yang harus dibangun adalah ekosistem industri yang kuat dan terintegrasi, mulai dari bahan baku, teknologi, mesin, SDM, pembiayaan, desain, pemasaran, hingga akses pasar global.
Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur mengatakan, sebagai organisasi yang menaungi lebih dari 2.500 anggota dan jutaan tenaga kerja, HIMKI mengambil peran sebagai orkestrator ekosistem industri furnitur dan kerajinan nasional, dengan fokus pada beberapa agenda utama, mulai dari Penguatan basis data dan pemetaan klaster industri nasional, Peningkatan produktivitas melalui adopsi teknologi dan modernisasi manufaktur. Kemudian Pengembangan SDM dan kompetensi industri, Diversifikasi pasar ekspor ke Timur Tengah, India, Afrika, Amerika Latin, dan ASEAN, Penguatan platform industri seperti IFEX, IndoWood, showroom luar negeri, dan jaringan buyer internasional. Lalu Mendorong kebijakan pemerintah yang lebih mendukung daya saing industri nasional.
Dalam forum ini, juga ditegaskan bahwa IndoWood berperan sebagai platform hulu industri, sementara IFEX menjadi platform hilir pemasaran global, sehingga keduanya menjadi bagian dari strategi besar HIMKI dalam membangun ekosistem industri yang utuh dari hulu hingga hilir.
Abdul Sobur juga menyampaikan, persaingan global saat ini bukan lagi antar perusahaan atau bahkan antar negara semata, melainkan antar ekosistem industri. Negara yang mampu menghadirkan ekosistem paling efisien, inovatif, dan kolaboratif akan menjadi pemenang dalam perdagangan dunia.
“Jika kita ingin ekspor furnitur dan kerajinan Indonesia tumbuh berlipat ganda, maka yang harus kita bangun bukan hanya pabrik yang lebih besar, tetapi ekosistem yang lebih kuat. HIMKI hadir untuk menghubungkan seluruh mata rantai industri agar bergerak dalam satu arah menuju Indonesia sebagai salah satu pusat furnitur dan kerajinan dunia,” ungkapnya.
Sobur juga menyatakan optimisme tinggi terhadap pemulihan nilai ekspor furnitur pada semester II tahun ini. Sikap optimistis tersebut tetap terjaga di tengah tekanan eksternal global yang cukup berat, mulai dari dampak perang hingga penerapan tarif perdagangan baru oleh Amerika Serikat.
"Tekanannya memang cukup besar sekali ya, karena ada perang, lalu ada tarif ke Amerika. Namun, kita selalu optimis bahwa di semester dua ini kondisi bisa membaik dan ada pertumbuhan yang lebih signifikan," ujarnya.
Diakuinya, Jawa Timur merupakan motor penggerak terbesar bagi ekspor mebel nasional. Kapasitas ekosistem industri yang kuat di wilayah Jatim dinilai mampu menjadi pilar utama untuk menembus pasar internasional, khususnya Amerika Serikat yang selama ini menjadi tujuan utama produk mebel Indonesia.
Sebagai langkah strategis memperkuat internal organisasi, HIMKI baru-baru ini menggelar Musyawarah Daerah (Musda). Dalam forum tersebut, Glenn Candranegara terpilih secara mayoritas suara untuk memimpin generasi muda yang dinilai memiliki militansi lebih kuat untuk menyongsong pertumbuhan industri ke depan.
Optimisme pasar ini didukung oleh sejumlah indikator positif, salah satunya pergerakan investasi di sektor mebel yang mencatatkan pertumbuhan sekitar 14 persen. Beberapa pelaku usaha dilaporkan terus melakukan ekspansi bisnis, mulai dari pembangunan pabrik baru hingga pengadaan mesin-mesin produksi modern.
Selain faktor domestik, adanya perubahan kebijakan diplomasi perdagangan di Amerika Serikat juga membawa angin segar. Kebijakan tarif impor di AS kini bergeser menjadi lebih lunak (soft) di kisaran 10 persen, dari yang sebelumnya sempat menyentuh angka 32 persen. Penurunan tarif ini diharapkan memperlancar penetrasi produk lokal, mengingat kontribusi pasar ekspor ke Amerika Serikat mencapai 56 persen dari total ekspor mebel Indonesia.
Sementara itu, Ketua DPD HIMKI Jatim, Glenn Candranegara menekankan pentingnya fokus pada modernisasi industri dan penguatan ekosistem secara menyeluruh. Menurutnya, modernisasi tidak hanya menyasar industri skala besar, tetapi juga wajib merangkul pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar saling melengkapi.
"Kita lebih fokus dalam modernisasi industri dan bergabung bersama anak-anak UMKM serta industri besar untuk saling melengkapi. Sebagai contoh, pengrajin-pengrajin lokal tetap kita libatkan sebagai penyedia komponen pelengkap dalam produk final kita, sesuai dengan permintaan dari para buyer," jelas Glen.
Ia menambahkan bahwa ajang pameran seperti Indowood yang tengah berlangsung saat ini menjadi momentum penting untuk membuka mata para pelaku usaha agar segera melakukan upgrade teknologi produksi. Langkah ini dinilai krusial agar industri mebel nasional memiliki daya saing yang setara di pasar global.
"Apabila ekosistem ini kita naikkan levelnya, otomatis semua pelaku usaha akan diuntungkan. Kita akan berkompetisi secara sehat bersama-sama dan akhirnya kita juga bisa bersaing dengan pelaku usaha global," pungkasnya. Jib

.jpeg)